AMPANA KOTA,-TKN.COM — Kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang dikeluhkan masyarakat di Kecamatan Ampana Kota dan Ratolindo, Kabupaten Tojo Una-Una (Touna), dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian publik. Di tengah gangguan pelayanan di SPBU Bailo akibat kebakaran fasilitas pompa, harga Pertalite di tingkat pengecer yang dilaporkan mencapai Rp15.000 per liter turut menjadi sorotan.
Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una sebelumnya menyatakan bahwa stok Pertalite di daerah tersebut masih mencukupi. Namun, masyarakat mengaku masih mengalami kesulitan memperoleh BBM, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai kelancaran distribusi hingga ke tingkat konsumen.
Kepala Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Kabupaten Tojo Una-Una, Abdurrahman Labanu, menjelaskan bahwa gangguan penyaluran Pertalite terjadi akibat kebakaran pada fasilitas pompa di SPBU Bailo beberapa hari lalu.
“Gangguan penyaluran terjadi akibat pompa yang terbakar. Saat ini tim teknisi sedang melakukan perbaikan terhadap fasilitas tersebut,” ujar Abdurrahman Labanu.
Ia berharap perbaikan dapat segera diselesaikan agar pelayanan pengisian Pertalite kembali normal dan antrean masyarakat dapat teratasi.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan selama proses perbaikan berlangsung.
enam spbu menjadi perhatian
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kabupaten Tojo Una-Una memiliki enam SPBU. SPBU Bailo dilaporkan mengalami gangguan penyaluran akibat kebakaran fasilitas pompa, sedangkan lima SPBU lainnya disebut masih beroperasi secara normal.
Meski demikian, keluhan masyarakat mengenai sulitnya memperoleh Pertalite perlu menjadi perhatian bersama. Ketersediaan stok secara keseluruhan tidak selalu menjamin kemudahan masyarakat mendapatkan BBM di setiap wilayah.
Karena itu, kondisi pasokan, distribusi, serta pelayanan di masing-masing SPBU perlu dipastikan melalui pengecekan langsung oleh instansi terkait.
harga pengecer mencapai rp15.000 per liter
Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah harga Pertalite di tingkat pengecer yang dilaporkan mencapai Rp15.000 per liter, bahkan disebut lebih tinggi di sejumlah desa.
Sejumlah warga mempertanyakan dasar penetapan harga tersebut, terutama ketika pemerintah daerah menyatakan bahwa stok Pertalite masih mencukupi.
“Kalau di SPBU masih tersedia dan harganya tetap, apa dasar pengecer menaikkan harga hingga dua kali lipat lebih?” ungkap seorang warga.
Keluhan itu mendorong masyarakat meminta pemerintah daerah dan instansi terkait melakukan pengawasan terhadap penjualan BBM di tingkat pengecer.
Warga berharap dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui sumber pasokan, penyebab kenaikan harga, serta kemungkinan adanya praktik penjualan yang melanggar ketentuan.
Namun, laporan mengenai harga Rp15.000 per liter tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut, termasuk lokasi penjualan dan kondisi transaksi di lapangan. Dugaan penimbunan maupun pelanggaran lainnya juga harus ditindaklanjuti berdasarkan bukti dan hasil pemeriksaan.
pemerintah diminta memastikan distribusi
Informasi mengenai kesulitan memperoleh Pertalite yang disampaikan Rahmawati Tane, penyiar RRI Ampana, turut menjadi perhatian dalam melihat kondisi distribusi BBM di wilayah tersebut.
Perbedaan antara ketersediaan stok dan kemudahan memperoleh BBM menjadi persoalan yang perlu dijelaskan secara terbuka. Stok yang dinyatakan mencukupi belum tentu berarti distribusi berjalan lancar di seluruh wilayah, terutama ketika salah satu fasilitas penyaluran mengalami gangguan.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una, pengelola SPBU, serta instansi terkait segera memastikan kelancaran penyaluran Pertalite dan memberikan informasi mengenai kondisi pasokan di masing-masing SPBU.
Pengawasan terhadap penjualan di tingkat pengecer juga dinilai penting agar masyarakat tidak semakin terbebani oleh tingginya harga BBM .
Pewarta: Ahmad Tuliabu

































