TOUNA,-TKN.COM — Profesionalisme dan integritas profesi jurnalis di Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) kini berada di titik nadir.
Julukan wartawan sebagai pilar keempat demokrasi tampaknya ,diduga mulai bergeser menjadi profesi pemburu “sepiring nasi dan lembaran merah”.
Ironisnya, pengkhianatan ini justru dilakukan oleh oknum wartawan sendiri terhadap rekan seprofesinya demi mengamankan kepentingan sepihak.
Skandal memilukan ini terbongkar saat sejumlah jurnalis lintas media sepakat untuk melakukan investigasi bersama dan membangun narasi kritis terkait dugaan mandeknya sejumlah kasus hukum di Polres Touna.
Berdasarkan konsensus awal, para pemburu berita ini berkomitmen untuk menyoroti kinerja korps baju cokelat yang dinilai tidak profesional dalam menuntaskan perkara.
Namun, pengkhianatan intelektual terjadi sesaat setelah berita kritikan tersebut tayang di lini massa. Secara mengejutkan, langsung muncul berita tandingan (counter-news) bernada pemujaan yang dirilis oleh salah satu oknum wartawan dari media lokal yang dikenal sebagai ‘mitra karib’ Polres Touna.
Berita sanggahan tersebut secara vulgar mematahkan semua poin kritikan dan berbalik memuji-muji institusi Polres Touna.
Langkah instan oknum jurnalis tersebut memicu tanda tanya besar sekaligus gelombang kekecewaan mendalam dari kelompok jurnalis yang konsisten mengawal kasus tersebut.
Baunya menyengat: dugaan transaksional demi meredam kritik lewat kamera dan pena.
Salah satu jurnalis Touna yang ikut dalam konsensus awal, sebut saja jurnalis “X”, angkat bicara dengan nada tinggi dan penuh kekecewaan atas runtuhnya etika moral sesama jurnalis.
“Kami sangat menyayangkan ada pelacuran profesi seperti ini. Kesepakatan awal jelas, kita bergerak atas fungsi kontrol sosial untuk mempertanyakan kenapa kasus di Polres Touna mandek.
Tapi begitu berita naik, teman seprofesi malah menikam dari belakang dengan merilis berita pujaan untuk menjilat. Ini di duga, membuktikan bahwa demi lembaran merah, solidaritas dibuang ke tempat sampah.
Kamera dan pena mereka bukan lagi untuk menyuarakan kebenaran, tapi murni mengejar isi perut,” ujar Jurnalis X dengan nada geram.
Fenomena ini memperlihatkan potret buram dunia pers di daerah, di mana idealisme dengan mudah digadaikan di duga demi rupiah dan kedekatan pragmatis dengan pihak otoritas.
Ketika fungsi kontrol sosial tumpul oleh suapan, maka pers bukan lagi menjadi penyambung lidah masyarakat, melainkan tameng pelindung bagi ketidakprofesionalan aparat.
Hingga berita ini diturunkan, oknum wartawan media lokal mitra Polres Touna yang merilis berita sanggahan tersebut belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan “berita pesanan” yang dialamatkan kepadanya.
(Ahmad Tuliabu)






























