Kriminal

Bentrok Fordata Meledak, Massa Rusak Pos Polisi Usai Pengeroyokan Antarwarga

37
×

Bentrok Fordata Meledak, Massa Rusak Pos Polisi Usai Pengeroyokan Antarwarga

Sebarkan artikel ini

Fordata,-TKN.COM -Bentrokan antarwarga pecah di Kecamatan Fordata, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jumat (8/5/2026) dini hari. Konflik yang bermula dari dugaan penganiayaan saat pesta warga berubah menjadi aksi pengeroyokan berantai hingga berujung pada perusakan Pos Pelayanan Polsek Fordata di Desa Romean.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 04.00 WIT di Desa Rumngeur. Situasi yang awalnya bersifat personal berkembang cepat menjadi konflik kelompok dan memicu ketegangan lintas desa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Patriano Sermudy diduga dipukul oleh Alberth Loru saat berlangsungnya acara pesta warga. Alberth disebut tersulut emosi setelah melihat Patriano berjoget sambil bergantungan di tenda acara.

Ketegangan pun pecah menjadi bentrokan terbuka. Aksi saling serang antar kelompok warga tak terhindarkan dan menyeret sejumlah orang dalam rangkaian pengeroyokan.

Situasi kembali memanas ketika Lukas Ditilebit bersama beberapa rekannya dari pihak Awear dikejar oleh kelompok Yafet Bairsady. Mereka kemudian melarikan diri dan bersembunyi di kawasan Watbinan.

Namun bentrok belum berhenti. Saat John Kafroli bersama lima rekannya melintas menggunakan dua unit sepeda motor menuju Desa Adodo, kelompok Lukas Ditilebit keluar dari persembunyian dan langsung melakukan pengeroyokan terhadap rombongan tersebut.

Kabar pengeroyokan tersebut dengan cepat menyebar ke warga Desa Adodo, Kecamatan Fordata. Ratusan Keluarga korban kemudian berdatangan dan berkumpul di lokasi kejadian, menyebabkan situasi keamanan sempat memanas dan berada dalam kondisi tegang.

Kapolsek Fordata saat dikonfirmasi media membenarkan adanya bentrokan tersebut. Ia menegaskan aparat langsung mengambil langkah pengamanan guna mencegah situasi berkembang lebih luas.

“Kami langsung melakukan pengamanan, menerima laporan masyarakat, meminta visum terhadap korban, serta berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, dan aparat keamanan untuk menjaga situasi tetap kondusif serta mencegah konflik susulan,” ujarnya.

Meski demikian, ketegangan kembali meningkat ketika keluarga korban mendatangi lokasi dengan emosi tinggi dan diduga ingin melakukan aksi balas dendam. Untuk mencegah tindakan main hakim sendiri, polisi mengevakuasi para terduga pelaku ke Polsek Larat.

Langkah evakuasi tersebut justru memicu kekecewaan sebagian massa. Situasi kemudian berubah ricuh setelah sekelompok warga diduga melakukan pengrusakan terhadap rumah warga di Desa Romean yang selama ini disewa sebagai Pos Pelayanan Polsek Fordata.

Peristiwa ini kembali memperlihatkan rentannya konflik sosial berbasis solidaritas kelompok di wilayah pedesaan. Persoalan pribadi yang tidak segera diredam dapat berkembang menjadi benturan massal yang mengancam keamanan masyarakat secara luas.

Hingga kini, aparat keamanan bersama Muspika Fordata masih melakukan pendekatan persuasif untuk menjaga stabilitas wilayah. Pertemuan lintas desa juga siap digelar dengan melibatkan pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, dan aparat keamanan guna mencari solusi damai serta mencegah konflik susulan.

Publik kini menanti langkah tegas aparat dalam menangani kasus tersebut secara objektif dan berkeadilan. Di sisi lain, bentrok ini menjadi peringatan serius bahwa penyelesaian konflik di tingkat akar rumput tidak boleh lagi disandera emosi dan aksi kekerasan.

Jika tidak ditangani secara cepat, adil, dan menyeluruh, konflik serupa berpotensi terus berulang dan menggerus kohesi sosial masyarakat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *