Berita

Anggaran Sound Bakulupi Rp300 Juta, Pemilik Akui Hanya Terima Rp150 Juta

48
×

Anggaran Sound Bakulupi Rp300 Juta, Pemilik Akui Hanya Terima Rp150 Juta

Sebarkan artikel ini

AMPANA KOTA,-TKN.COM — Pelaksanaan malam pembukaan Festival Budaya Bakulupi 2026 di Lapangan Kelurahan Bailo, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-Una, Sabtu (12/9/2026), menuai sorotan.

 

Selain kualitas sound system yang dinilai buruk, besaran anggaran yang disebut mencapai Rp300 juta turut dipertanyakan. Informasi yang beredar menyebut anggaran tersebut dihitung sekitar Rp60 juta per malam untuk lima malam pelaksanaan.

 

Sorotan semakin menguat setelah pemilik sound system disebut mengaku hanya menerima pembayaran sebesar Rp150 juta.

 

Jika informasi tersebut benar, maka terdapat selisih sekitar Rp150 juta yang perlu dijelaskan. Publik mempertanyakan rincian penggunaan anggaran serta ke mana selisih tersebut dialokasikan.

 

Pada malam pembukaan, gangguan audio terjadi berulang kali. Suara vokal pengisi acara dan sambutan terdengar samar, sementara bunyi feedback/storing dan distorsi beberapa kali mengganggu jalannya acara.

 

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pembukaan festival dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una, Gubernur Sulawesi Tengah bersama sejumlah pejabat provinsi, serta ratusan masyarakat.

 

Salah seorang pengunjung yang juga praktisi penyedia jasa elekton di Touna menilai persoalan teknis tersebut semestinya dapat diantisipasi.

 

“Memalukan. Ini acara tingkat kabupaten yang dihadiri Gubernur dan tamu provinsi, tapi persiapan teknis audionya seolah asal-asalan. Distorsi di mana-mana dan storing tidak segera ditangani,” ujarnya.

 

Ia juga mempertanyakan kesesuaian antara nilai anggaran dan hasil pekerjaan yang terlihat di lapangan.

 

“Kalau benar anggarannya Rp300 juta, sementara pemilik sound mengaku hanya menerima Rp150 juta, tentu selisih Rp150 juta itu harus dijelaskan. Masyarakat berhak mengetahui penggunaannya,” katanya.

 

Menurutnya, kegiatan outdoor berskala besar membutuhkan perhitungan kapasitas perangkat, pengaturan frekuensi mikrofon serta penempatan speaker yang tepat agar suara terdengar jelas dan tidak menimbulkan feedback.

 

Hingga berita ini diturunkan, panitia dan dinas terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai nilai kontrak sound system, rincian anggaran, pembayaran kepada penyedia jasa, maupun penggunaan selisih Rp150 juta yang dipertanyakan.

 

Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi panitia, dinas terkait, maupun pihak penyedia sound system untuk memberikan penjelasan mengenai informasi tersebut.

 

(Ahmad Tuliabu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *