TARGET KASUS NEWS
PEMERINTAH TOJO UNA-UNA TIDAK ANTI KRITIK
Oleh: Ahmad Tuliabu
Di dalam perjalanan sebuah pemerintahan, kritik bukanlah musuh. Kritik adalah cermin yang memantulkan kekurangan, sekaligus kompas yang menunjukkan arah menuju perbaikan. Pemerintahan yang kuat bukanlah pemerintahan yang menutup telinga terhadap suara rakyat, melainkan pemerintahan yang berani mendengar, mengevaluasi, dan terus berbenah.
Semangat itulah yang kerap disampaikan pasangan Bupati Tojo Una-Una, Ilham Lawidu, S.H. bersama Wakil Bupati Surya, S.Sos., M.Si. Menurut mereka, pemerintah daerah tidak anti terhadap kritik. Sebaliknya, kritik yang disampaikan secara santun, berdasarkan fakta, dan bertujuan membangun merupakan bagian penting dari proses demokrasi dan pembangunan daerah.
Di tengah dinamika pemerintahan, berbagai pandangan dan penilaian dari masyarakat merupakan sesuatu yang wajar. Bagi pasangan pemimpin ini, setiap kritik menjadi bahan introspeksi agar pelayanan kepada masyarakat dapat terus ditingkatkan. Mereka menilai bahwa kemajuan daerah hanya dapat dicapai apabila pemerintah dan masyarakat berjalan beriringan, saling mengingatkan, serta memiliki tujuan yang sama, yaitu mewujudkan Tojo Una-Una yang semakin maju dan sejahtera.
Membangun daerah kepulauan seperti Tojo Una-Una tentu bukan pekerjaan yang selesai dalam sekejap. Dibutuhkan kerja keras, kesabaran, serta sinergi seluruh elemen masyarakat. Jalan-jalan desa yang mulai dibangun, peningkatan pelayanan publik, perhatian terhadap sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pendidikan, hingga kesehatan menjadi bagian dari langkah panjang pembangunan yang terus diupayakan pemerintah daerah. Berbagai program tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat hingga pelosok desa.
Dalam demokrasi, perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk saling menjatuhkan. Justru dari keberagaman pandangan itulah lahir gagasan-gagasan baru yang memperkaya arah pembangunan. Kritik yang konstruktif akan menjadi energi positif, sementara pemerintah berkewajiban menjawabnya dengan kerja nyata, transparansi, dan pelayanan yang semakin baik.
Ilham Lawidu dan Surya memahami bahwa kepercayaan masyarakat bukan diperoleh melalui kata-kata, melainkan melalui tindakan yang dapat dirasakan manfaatnya. Karena itu, berbagai aspirasi masyarakat terus menjadi perhatian agar setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.
Sejarah mencatat bahwa daerah akan berkembang apabila pemerintah mampu membuka ruang dialog dengan masyarakat. Keterbukaan terhadap kritik merupakan tanda kedewasaan dalam memimpin. Kritik yang lahir dari kepedulian bukan untuk melemahkan pemerintah, melainkan menjadi pengingat agar roda pembangunan tetap berada di jalur yang benar.
Pada akhirnya, kemajuan Tojo Una-Una adalah cita-cita bersama. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, dan masyarakat membutuhkan pemerintah yang terus bekerja dengan hati. Ketika kritik diterima sebagai masukan, dialog menjadi budaya, dan pembangunan dilakukan secara berkelanjutan, maka harapan akan Tojo Una-Una yang lebih maju bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan bersama.
“Kritik bukan penghalang langkah, melainkan cahaya yang menerangi jalan menuju pemerintahan yang semakin baik demi kesejahteraan seluruh masyarakat Tojo Una-Una.”



































